Jumat, 04 Februari 2011

Persija Unggul di Balikpapan

Persija Jakarta kembali memetik angka penuh saat bertandang ke markas Persiba Balikpapan dalam lanjutan Liga Super Indonesia (ISL).
Tim Macan Kemayoran berhasil menjinakkan Beruang Madu 0-1(0-0) di Stadion Persiba , Balikpapan, Rabu 2 Februari 2011. Pada laga kali ini, Persija bermain dengan ciri khasnya, bola-bola pendek dan passing antar lini yang biasa diperagakan oleh anak asuh Rahmad Darmawan.
Kondisi lapangan yang tergenang air menjadi salah satu faktor tidak berkembangnya permainan Tim Persija di babak pertama.
Persiba Balikpapan mendapat kesempatan emas di menit 29. Umpan Sultan Samma dapat diselesaikan dengan Baik oleh Robertiho, Namun masih dapat digagalkan oleh Kiper berpengalaman Hendro Kartiko.
Pada menit 34,  Hendro kembali menjadi penyelamat Macan Kemayoran setelah berhasil menghalau Tendangan keras ke ujung tiang dari Aldo Barreto.
Kedudukan 0-0 bertahan hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, Persiba mulai kehilangan arah permainan. Situasi ini dimanfaatkan oleh Pelatih Persija Jakarta, Rahmad Darmawan  dengan Memasukkan Amrizal mengganti ELcapitano Bambang Pamungkas di menit 59 untuk terus menggedor pertahanan lawan.
Terbukti di Menit 68, Bayemi berhasil menjebol gawang Persiba Balikpapan dengan tandukan kepalanya melalui umpan dari Ismed Sofyan dan mengubah kedudukan menjadi 1-0 untuk Persija Jakarta.
Namun, menit 74, Agu Casmir Gagal Memanfaatkan umpan manis dari Ismed Sofyan didepan mulut Gawang Persiba Balikpapan.
Kedudukan ini bertahan hingga pertandingan usai.
Dengan tambahan poin sempurna ini, Persija kini berhasil menggusur Arema Indonesia di posisi tiga klasemen Liga Super Indonesia (ISL) 2010/2011. Persija kini mengoleksi 23 poin dari 12 pertandingan atau tertinggal dua poin dari Semen Padang yang menjadi runner-up. [*Toriki]
Susunan Pemain
Persiba: Galih Sudaryono, Muhammadan, Mijo Dadic, Mahrus Bachtiar, Erik Setiawan, Kim Yoong-hee (69, Asri Akbar), Trias Budi, Robertino Pugliara, Sultan Samma (Eki Nurhakim, 57′), Khairul Amri, Aldo Bareto.
Persija: Hendro Kartiko, Leo Saputra, Eric Bayemi, Emuejeraye Precious, Ismed Sofyan (M Nasuha, 88′), Toni Sucipto, Syamsul Chaerudin, Oliver Makor, Greg Nwokolo (Aliyudin, 90+), Bambang Pamungkas (Ambrizal, 46′), Agu Casmir 


Sumber : thejakmania.net

Selasa, 01 Februari 2011

Persija siapkan Greg & Syamsul dalam lanjutan LSI kontra Persiba

BALIKPAPAN-Bermodal kemenangan besar usai mencukur tamunya Persijap Jepara dengan skor 3-0 pada matchday ke-11 (29/1) di lanjutan Kompetisi Indonesia Super League (ISL), Tim Macan Kemayoran –julukan Persija Jakarta- Senin (31/1) kemarin tiba di Balikpapan.
Bertekad melanjutkan tren positif mereka sekaligus memantapkan posisi dalam persaingan empat besar klasemen sementar, Persija yang kini bertengger di peringkat empat dengan poin 20 dari 11 laga tiba dengan kekuatan penuh.
“Alhamdulillah kami tiba di Balikpapan dengan membawa 20 pemain. Semua pemain yang kami sertakan siap dimainkan saat melawan Persiba nanti,” kata Rahmad Darmawan, arsitek tim asal Ibu Kota tersebut kepada Balikpapan Pos, kemarin.
Bahkan kedatangan tim yang dimotori beberapa penggawa Timnas Merah Putih seperti Bambang Pamungkas dan M. Nasuha tersebut tidak hanya sekedar berbekal kemenangan dari Persijap saja. Tapi kedatangan mereka pun  saat menghadapi tuan rumah Persiba pada laga yang akan ditayangkan secara live oleh antv pada Rabu (2/2) pukul 16.00 Wita tersebut, kembali akan diperkuat dua pilar utama mereka yang sebelumnya sempat absen akibat aumulasi kartu kuning.
“Pada saat  menang dari Persijap beberapa waktu lalu, kami (Persija) memang tidak diperkuat dua oleh Greg Nwokolo dan Syamsul Chaerudin. Tapi sekarang keduanya sudah terbebas dari sanksi tersebut dan mereka sudah siap turun  menghadapi Persiba, karena itu mereka juga kami sertakan,” kata RD-sapaan akrab Rahmad Darmawan.
Keseriusan RD agar anak asuhnya bisa maraih hasil maksimal dalam lawatannya ke kandang Beruang Madu, meskipun baru tiba siang kemarin dan langsung menuju Hotel Pasific. Sore kemarin RD langsung menggenjot Bambang Pamungkas dan kawan-kawan pada latihan yang berlangsung di Lapangan Sudirman.
“Hanya pemulihan kondisi saja, besok pagi (hari ini.Red) kami baru akan menggelar latihan di Stadion Persiba,” kilah RD.
Pelatih yang sukses meraih trible winner bersama Sriwjaya FC tersebut tidak mau berandai-andai saat menghadapi Persiba.Menurutnya Persiba tetaplah tim kuat, terlebih jika mereka bermain dikandangnya.
“Bagaimanapun prestasi Persiba musim ini, mereka tetap tim besar yang akan lebih solid lagi saat bermain di kandang. Kami tetap respek dengan Persiba, dan kami akan tetap bermain sebaik mungkin,” tandas RD.(san)


Kamis, 20 Januari 2011

Persija Keluhkan Aroma Nonteknis di Wamena

Persija Jakarta gagal mencuri angka di kandang Persiwa Wamena. Bertandang ke Stadion Pendidikan, Wamena, Senin (17/1) malam WIT.
Laga di Wamena menjadi hantu bagi Persija. Macan Kemayoran takluk 0-2 dari tuan rumah Persiwa Wamena di Stadion Pendidikan.
Pertandingan ini merupakan awal perjalanan Persija di Papua. Pada 20 Januari mendatang, Tim asuhan Rahmad Darmawan ini akan menjalani Big Match melawan tim papan atas lainnya, Persipura Jayapura.
Dalam pertandingan lanjutan Liga Super Indonesia (LSI) di Wamena itu berlangsung dengan suhu di bawah 10-15 derajat celcius. Akibat dinginnya suhu tersebut tim ibukota ini pun terpaksa mengakui keunggulan tim tuan rumah.
Gol pembuka kemenangan Laskar Lembah Baliem –julukan Persiwa– dicetak oleh Boakay Foday Eddie di menit ke-27. Rahmad Darmawan Pelatih kepala Persija Jakarta mengklaim gol pertama Persiwa yang dicetak Boakay Foday lahir karena pelanggaran terhadap kiper Hendro Kartiko.
Selanjutnya, Ferdinand Sinaga melengkapi penderitaan Ismed Sofyan cs pada enam menit menjelang laga berakhir. Berawal dari aksi pemukulan terhadap bek Persija Amarzukih yang berujung pada gol kedua yang dilesakkan Ferdinan Sinaga.
“Wasit seharusnya tidak mengesahkan dua gol tersebut. Sebab, sebelumnya terjadi pelanggaran”. Ungkap Rahmad Darmawan.
Rahmad Darmawan juga menambahkan ”Kami tidak kecewa dengan kekalahan ini. Sebab, babak kedua kami sangat dominan. Tur Papua selalu sulit. Kami hanya menyesalkan sikap wasit yang mengesahkan dua gol tersebut, padahal sebelumnya terjadi pelanggaran” .
”Kami yakin bisa mencuri angka pada laga melawan Persipura. Permainan kami stabil, meski dihadapkan pada kelelahan fisik. Kami juga sudah merencanakan penggantian dua pemain yang dipanggil timnas U-23. Kami sudah antisipasi semuanya,” ujarnya.
Kendati kalah, hasil ini belum mempengaruhi posisi Persija di urutan tiga klasemen sementara dengan nilai 17. Sementara Persiwa terdongkrak ke urutan sembilan klasemen dengan poin 11.

Senin, 03 Januari 2011

Tetap Semangat Garudaku

Di hadapan 100 ribu pendukung merah-putih yg memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno, air mata itu tumpah. Di saksikan oleh jutaan pasang mata yg menonton melalui layar kaca, kami kembali tersungkur. Kesedihan itu kembali menyapa, kegetiran itu kembali menghampiri, rasa pahit itu kembali harus di telan, dan kegagalan itu harus kembali kita rasakan bersama..
Beberapa pemain nampak menangis tersedu-sedu, beberapa yg lain terlihat  berkaca-kaca, sisanya nampak membuang tatapan nanar, kosong seakan tidak percaya. Sungguh sangat wajar jika mereka terlihat sangat sedih dan terpukul malam itu. Setelah mengawali gelaran piala AFF ini dengan begitu impresif dan elegan, akhirnya kami harus kembali tertunduk lesu..
Mari kita sedikit menengok ke belakang. Dengan hasil 6 kemenangan dan hanya 1 kali menelan kekalahan, ternyata kami belum juga mampu membawa pulang Trophy itu ke pangkuan ibu pertiwi. Bandingkan dengan pencapaian sang juara Malaysia, yg hanya berbekal tiga kemenangan, dua kali hasil seri dan dua kali kekalahan..
Sepakbola memang penuh misteri, terkadang hasil pertandingan tidak selamanya terlihat fair dan dapat diterima oleh akal sehat. Bagaimana tidak aneh, 3 kali kita berhadapan dengan Malaysia, dengan hasil 2 kemenangan dan 1 kekalahan, akan tetapi pada akhirnya merekalah yg keluar sebagai juara..
Aneh dan sedikit sulit di terima akal sehat bukan..?? Itulah sepakbola, Malaysia mengalami kekalahan di saat yg tepat, sedangkan kekalahan kita terjadi disaat-saat yg paling krusial dalam sebuah kejuaraan (Dan dalam skor yg juga cukup mencolok)..
Akan tetapi sekali lagi, itulah sepakbola. Sama persis dengan apa yg pernah saya sampaikan dalam artikel (Indonesia Masih Bisa: 2010), “Football is an unpredictable thing. Some results will make you shock, but that’s the thing that makes it passionate, the mystery in it”..
Sehari setelah Indonesia memastikan diri masuk final, kami sempat diundang dalam sebuah acara makan siang oleh Bpk Aburizal Barkie di kediaman beliau. Saat ramah tamah, saya sempat berbicara di depan semua yg hadir dalam acara tersebut. Dan jika saya tidak salah, acara tersebut juga di siarkan secara LIVE oleh salah satu stasiun TV swasta di negeri ini..
Ketika itu  saya berbicara demikian, “Ini bukanlah final pertama untuk kita (Indonesia), ini adalah final ke 4 setelah pada 3 final sebelumnya kita selalu gagal. Keberhasilan ini memang patut di rayakan, akan tetapi seharusnya tidak mengurangi fokus dan konsentrasi kita di 2 laga final, yg menurut saya sangat berat”..
Dan ternyata apa yg saya khawatirkan menjadi kenyataan. Kita sempat kehilangan konsentrasi pada pertandingan leg pertama di stadion Bukit Jalil. Hal tersebutlah yg mengakibatkan kita harus menerima 3 gol hanya dalam waktu kurang lebih 15 menit. Iya, bencana 15 menit yg membuat kita harus bekerja dengan sangat keras di Jakarta pada leg ke dua..
Saya kurang sependapat dengan beberapa kalangan yg menyalahkan keberadaan sinar laser di stadion Bukit Jalil, ketika itu. Iya, sinar laser tersebut memang sedikit banyak mengganggu, akan tetapi alangkah kurang bijaksana jika kita menjadikan hal tersebut sebagai alasan utama atas kekalahan kita malam itu…
Usai pertandingan, banyak sekali pengamat (Baik yg mengerti maupun yg kurang mengerti tentang sepakbola) menyalahkan para punggawa timnas yg dalam pandangan mereka bermain sangat buruk. Beberapa pemain mendapatkan sorotan yg sangat tajam dan bahkan beberapa pemain tersebut di nilai tidak pantas berseragam merah-putih..
Bagi saya pribadi, hal tersebut sungguh sangat menggelikan. Saya memang sependapat jika beberapa pemain sempat melakukan kesalahan. Akan tetapi bukankan secara keseluruhan dalam 5 pertandingan sebelumnya, mereka telah melakukan kerja yg luar biasa bagi tim ini. Apakah anda sekalian lupa akan fakta tersebut..??
“Setiap orang yg berusaha dan bekerja dengan keras, suatu saat pasti akan membuat kesalahan. Sedangkan mereka yg hanya duduk berdiam diri serta berpangku tangan, tidak akan pernah berbuat salah”
Sebagai pemimpin dari tim ini, saya tidak akan pernah membiarkan salah satu pemain tertinggal di belakang. Saya akan selalu pastikan, jika semua pemain tetap bergandengan tangan dan berjalan di garis horizontal yg sama. Seperti yg pernah saya sampaikan dalam artikel (Indonesia Masih Bisa : 2010) “Sebagai sebuah tim, kita menang bersama-sama dan sudah seharusnya kita juga kalah kalah bersama-sama”..
Dan pada akhirnya, sayalah yg akan bertanggung jawab mengenai apapun yg terjadi di dalam tim ini (Tentu di luar konteks Manager dan Pelatih kepala). Saya adalah pemain yg berbicara atas nama tim ketika konferensi pers sesaat setelah laga final digelar. Iya, saya sengaja datang dalam konferensi pers tersebut, karena itu merupakan tanggung jawab saya, sekali lagi itu merupakan tanggung jawab saya..
Saat itu, di depan seluruh wartawan baik dalam maupun luar negeri yg hadir, saya berbicara demikian:
“Awal sekali tahniah (Selamat) untuk Malaysia, yg telah berhasil memenangi gelar AFF Cup tahun ini.. Dan mengenai tim Indonesia, menurut saya tidak ada yg salah dengan tim ini, kami berhasil memenangkan pertandingan malam ini, hanya saja kami tidak mampu untuk menjadi juara.. Terima kasih atas dukungan dari semua pihak yg terkait dan selamat malam”
Diantara seluruh punggawa merah-putih, mungkin saya adalah pemain yg paling terpukul dengan kegagalan tersebut. Ini merupakan kegagalan saya untuk yg kesekian kalinya, pertandingan melawan Malaysia di final itu sendiri, adalah penampilan saya ke 86 untuk merah-putih dalam kurun waktu 11 tahun, 5 bulan, 3 minggu dan 5 hari (Tanpa ada satupun gelar tim penting yg mampu saya raih). Dan mungkin, pertandingan tersebut juga akan menjadi penampilan saya yg terakhir untuk Indonesia (Semoga saja tidak)..
Sejujurnya malam itu saya ingin menangis, akan tetapi hati kecil saya mengatakan “JANGAN”. Sebagai pemain senior, tentu saya bertanggung jawab untuk membesarkan hati seluruh punggawa tim ini. Saya harus tetap memelihara keyakinan seluruh pemain, jika masih ada hari esok. Saya harus tetap memberi semangat kepada mereka, jika kegagalan ini bukanlah akhir dari segalanya. Saat itu, saya berusaha sebisa mungkin untuk terlihat tegar, walaupun sejujurnya hati saya juga retak..
Saya menepuk pundak Hamka, Maman, Markus, Nasuha, Zulkifli, Christian, Bustomi dan beberapa pemain yg lain sambil berkata, “Hey,, kita sudah melakukan yg terbaik kawan, tidak ada yg perlu di sesalkan’. Saya juga sempat memeluk Irfan Bachdim yg tengah menangis dan berkata, “It’s ok Irfan, maybe next time bro, maybe next time”. Saya juga menghampiri Arif Suyono yg nampak menangis tersedu-sedu di ujung bangku cadangan sembari berbisik, “Isin rek ketok no TV nangismu hehehe” (Malu ah loe nangis keliatan di TV itu hehehe)..
Tidak lupa, saya juga membesarkan hati Firman Utina, yg tengah merasa sangat bersalah dengan kegagalannya dalam menuntaskan tendangan 12 pas malam itu. Ketika itu saya berkata “Terlepas dari kegagalan pinalti tadi, loe udah nglakuin tugas yg luar biasa buat tim ini Man. Siapapun bisa gagal pinalti sob, gue juga sering. Loe pantes jadi pemain terbaik AFF kali ini Man, Selamat..!!”..
Saya berkewajiban membesarkan hati seluruh pemain yg sebagian besar masih berusia muda, karena mereka masih mempunyai masa depan yg sangat panjang. Di depan mereka, sudah menunggu sebuah tanggung jawab yg juga tidak kalah besar  di event-event berikutnya di antarnya Sea Games, Pra Olimpiade maupun Penyisihan Piala Dunia yg akan di helat dalam waktu dekat..
Kekalahan ini memang sangat menyakitkan, akan tetapi tidak seharusnya hal tersebut diratapi dengan terlalu berlebihan. Kegagalan ini memang menyisakan kepedihan, akan tetapi hal itu jangan sampai memadamkan semangat dan mimpi kita bersama, untuk memajukan persepakbolaan negeri ini..
Karena, keyakinan itu hendaknya harus tetap ada di hati kita semua. Semangat itu harus tetap menggelora di jiwa kita bersama. Sehingga sudah seharusnya, jika kita tetap berteriak dengan lantang:
“Tetap Semangat Garudaku…!!!”
Selesai…